Deskripsi
Penulis: Dome
Tebal: 55 halaman
Siang itu, di taman kota Jakarta yang terik, Ibra tidak menyangka bahwa dirinya akan berhadapan langsung dengan pria yang selama ini hanya ia tonton lewat layar ponsel—pemain bokep gay dari channel Telegram yang ia langgani dengan bayaran mahal. Koko, berpostur kekar dengan garis rahang tegas dan aura dominan yang mengintimidasi, berdiri hanya dalam jarak satu langkah darinya. Aroma cologne, uap pentol panas, dan keringat yang menetes di punggung Ibra menciptakan ketegangan yang tak bisa diabaikan. “Gimana? Permainan gue hot nggak? Lo mau gue entot kayak orang di video itu?” bisik Koko tepat di telinganya—dan Ibra hanya bisa mengangguk, lemas, tak berkutik di bawah tatapan mata hitam yang menyipit penuh minat.
Perjalanan dari taman ke indekos sempit di sudut perkampungan padat Jakarta berlangsung dalam diam yang mencekam. Setiap langkah Koko di belakangnya terasa seperti janji yang akan segera ditebus. Pintu kamar tertutup, kaos hitam itu ditarik perlahan memperlihatkan dada bidang berotot, dan tangan besar Koko meraih pinggang ramping Ibra—menariknya hingga tubuh mereka saling menempel, hingga ada sesuatu yang keras, panas, dan besar menekan perutnya. Ibra tahu, di balik video yang ia tonton berulang-ulang itu, terdapat batang kontol yang lebih besar dan lebih tebal daripada bayangannya. Koko menunduk, bibir tebalnya menyentuh lehernya, lalu berbisik rendah, penuh godaan: “Gue bakal bikin lo keenakan ….”
Tapi yang Ibra tidak perkirakan—kepiawaian Koko tidak hanya soal ukuran. Pria itu tahu persis ke mana harus menyentuh, ke mana harus menjilat, ke mana harus menekan, sampai Ibra tak mampu lagi menahan desahan yang pecah dari bibirnya yang basah. Lubang pantatnya yang sempit akan diregangkan sedikit demi sedikit, mentok dan penuh, hingga setiap hantaman pinggul kekar itu menggetarkan seluruh tubuh rampingnya. Pertanyaannya sekarang: ketika video yang selama ini ia tonton dari balik layar kini menjadi nyata di hadapannya—dan ketika Koko berbisik “jepit kontol gue” tepat di telinganya—masalkah Ibra cukup hanya menjadi penonton yang bayar mahal, atau justru kini ia terjebak dalam ketagihan yang tak bisa lagi ia hentikan?










Review
Belum ada yang kasih review.